june
4 min readMar 18, 2024

Perjalanan kini dipimpin Arthur dengan Sadam yang sesekali membantunya sambil menggendong Sagara di belakang.

Sepanjang perjalanan ke arah pos empat, Sagara yang berada di gendongan Sadam itu hanya bisa diam— menikmati rasa nyaman karena bau dari tubuh Sadam. Entah itu karena minyak wangi yang dipakainya, atau bau yang dihasilkan dari tubuh Sadam sendiri Sagara sangat menyukainya. Dan juga tubuh Sadam itu hangat, sehingga mampu membuat dirinya tak lagi merasakan dinginnya Cisarua.

Sagara menempelkan wajahnya pada ceruk leher Sadam, mengeratkan pelukannya hingga membuat sang empu kegelian karena napas Sagara yang mengenai lehernya. Namun, Sadam membiarkan hal itu, dan mencoba menikmatinya. Ia tak mau melepas momen ini begitu saja.

“Ganteng deh kalau gini.” Sagara menyibakkan rambut Sadam ke belakang.

“Mau diapain pun gue tetep ganteng.” Sadam terkekeh membuat Sagara memukul pelan bahunya.

Sagara kembali menidurkan kepalanya di bahu Sadam dan menatap wajah sang empu dari belakang sana.

“Makasih ya, udah baik sama gue selama ini.”

“Di sini emang gue nya aja yang tolol, gak bisa paham maksud di balik kebaikan lo itu. Maaf, Dam ....”

“Sadam, gue harap lo gak tolol kayak gue ya ....” Sagara terkekeh, “Semoga lo bisa paham alasan gue pilih lagu yang bakal kita tampilin nanti malam.”

Sadam paham maksud Sagara. Namun, ia memilih untuk diam.

“Nanti kalau udah mau deket pos empat turunin gue aja ya, Dam. Takut diomelin kenapa kita gak bikin tandu aja. Terus sebagai gantinya — gue boleh gandeng tangan lo gak?”

Empat anggota lain di sana hanya bisa berpura-pura untuk tidak mendengar— membiarkan dunia menjadi milik Sadam dan Sagara seolah-olah mereka di sana hanya mengontrak.

Sekarang mereka baru saja selesai dari kegiatan yang kedua. Yaitu, masing-masing kelompok harus membentuk lingkaran dengan memegang satu lilin yang menyala di tengah, berjalan dari ujung ke ujung dan berusaha menjaga lilinnya agar tak mati karena terkena lemparan plastik yang berisikan air.

Kalau kata Sagara mah, Udah kayak ngepet aja!

Setelah kejadian saat menuju pos empat tadi Sadam dan Sagara tak banyak bicara sampai saat ini.

Sadam sendiri diam-diam sedikit overthinking mengenai perkataan Sagara tadi. Ia tak sebodoh itu untuk memaknai sebuah lagu. Ia paham mengenai arti lagu itu.

Apa Sagara sempat membaca pesan pernyataan perasaannya tempo hari lalu? Dan apa Sagara akan segera membalas perasaannya?

Semua pikiran yang berkecamuk itu ia luapkan dengan cara berteriak. Tetapi, mulutnya masih ditutup handuk membuat Sagara yang berada di sampingnya itu menatap horor seolah-olah mengatakan, berisik banget sih!

Sementara Sagara semenjak selesai kegiatan yang kedua ia hanya menekuk wajahnya. Badannya sih sudah tak hangat lagi. Namun, karena rasa lelah, pusing, dan juga sakit kepala yang tiba-tiba datang itu mampu membuat dirinya bete dan sensi ke semua orang. Apalagi kaos yang ia kenakan saat ini sudah basah karena terkena lemparan air tadi. Pokoknya ia ingin segera ganti baju sekarang juga.

“Mandinya dua-dua aja ya biar cepet.” Brian berusaha mencairkan suasana di depan kamar mandi.

“Yaudah, Ardan lo duluan gih,” tunjuk Sadam.

Ardan menggeleng ribut, “Gak! Lo aja, Dam.”

“Lo aja.”

“Lo aja, Dam.” Ardan menunjuk Sagara dengan dagunya seolah-olah mengatakan, Gue takut dihantam Sagara di dalem.

Klek!

Pintu dibuka menampilkan Harsa dengan rambut basahnya. Lantas, Sagara langsung menarik tangan Sadam ke dalam kamar mandi hingga membuat ketiga orang di sana terkejut.

.

.

.

Setelah pintu dikunci Sadam pun menetralisir perasaan terkejutnya. Netranya terfokus untuk menatap Sagara yang tengah mengomel sambil menata alat mandinya di depan sana.

“Lo pada bisa gak sih gak usah ribut? Udah pada gede kan bukan anak kecil lagi? Masalah mandi duluan aja ribet banget!”

Ditatapnya belakang tubuh Sagara yang sesegukan itu. Lalu, Sadam mendekatinya dan memegang bahunya.

“Sa, lo gapapa?”

Sagara mengusap air matanya. “Gue capek, Dam ... kepala gue sakit banget. Pusing ... pengen pulang.”

Keluhan yang keluar dari mulut Sagara itu berhasil membuat Sadam memeluk dirinya. Baju keduanya yang basah berhasil menambah rasa dingin yang masuk ke dalam tubuh mereka masing-masing.

Tapi, seketika rasa dingin itu berubah menjadi hangat kala telapak tangan Sadam mengusap surai halus Sagara sambil mengucapkan kalimat-kalimat penenang untuk dirinya.

“Maaf gue seharusnya gak marah sama lo tadi. Gue gak seharusnya sensi ke semua orang karena mood gue yang jelek banget. Maaf ...,” cicit Sagara sambil mengusap air matanya.

Sadam menggeleng, “Gak, Sa. Wajar kalau lo sensi begitu, lo pasti capek banget kan? Temen-temen yang lain juga pasti ngerti kok. Jadi gapapa, gak usah dipikirin ya ....”

“Terus juga— you did well, Sa! Makasih udah mau jadi ketua dari kelompok kita. Mimpin kita untuk ngelakuin ini itu dengan baik. Anak-anak suka banget dipimpin sama lo.”

“Liat aja si Ardan. Tadinya dia ogah-ogahan kan gak mau dance? Tapi sekarang malah ketagihan. Kemarin dia minta diajarin dance yang lain sama Harsa. Dan omongan lo terbukti, Ardan sekarang punya bakat terpendam,” ucap Sadam dengan diakhiri kekehan kecil.

“Udah ya, jangan terlalu dipikirin. Lo mau teh anget kan? Daritadi ngerengek butuh teh anget terus. Nanti kita bikin ya? Terus juga nanti kita minta obat sama Jeremy atau guru ya biar sakit kepala lo ilang dan coba istirahat sebentar sebelum lanjut ke acara malam nanti.”

Klek!

“Anjir!”

Zidane dan Azka yang tengah menguping di depan kamar mandi berisikan Sadam dan Sagara refleks menjauhkan kepala mereka saat pintu kamar mandi sudah dibuka.

Sagara dan juga Sadam yang baru saja keluar langsung menatap heran dua orang di depannya saat ini.

“Ngapain kuping lo ditempel tempelin begitu? Mesum tau gak ngupingin orang mandi!”

Tersangka pun mengelak, “Enggak lho! Ini tadi gue denger ada suara orang garuk-garuk tembok. Kayaknya, villa nya angker deh ....”

“Kepala lo pada sini yang gue garuk.” Setelah mengatakan itu, Sagara pun pergi meninggalkan orang-orang di sana.

Sadam melirik ke arah Zidane dan Azka yang menatapnya penuh arti. “Gue gak ngapa-ngapain.”

Jawaban yang keluar dari mulut Sadam pun berhasil membuat keduanya mendesah kecewa.

Sign up to discover human stories that deepen your understanding of the world.

Free

Distraction-free reading. No ads.

Organize your knowledge with lists and highlights.

Tell your story. Find your audience.

Membership

Read member-only stories

Support writers you read most

Earn money for your writing

Listen to audio narrations

Read offline with the Medium app

june
june

Written by june

hanya mencoba untuk merajut angan yang tak tersampaikan di dunia nyata.

No responses yet

Write a response